Sebagaian besar dari kita menganggap HIV merupakan persoalan “perilaku”. Karena itu program yang diusung adalah membenahi perilaku mereka yang dianggap berisiko tinggi terkana HIV. Untuk merubah prilaku baru agar terhindar dari pewabahan, serangkaian kegiatan dengan konsep perubahan perilaku ditawarkan sebagai obat mujaraf. Pertanyaan dasarnya adalah siapa yang membingkai HIV sebagai permasalahan “perilaku”. Apakah ini merupakan hasil kajian, lessen learn yang panjang atau bagian dari strategi untuk menawarkan “sesuatu” yang baru untuk mendukung strategi tunggal gobalisasi ? Siapa sebenarnya yang mempersepsikan HIV adalah masalah prilaku.
Sudut pandang HIV sebagai persoalan perilaku telah menegasikan kalau “perilaku” masyarakat yang paling banyak terkena HIV dianggap prilakunya tidak baik, oleh karenannya harus diperbaiki. Diketuhui pula, pewabahan HIV terbesar di Sub Sahara Afrika, dan beberapa negara berkembang. Barat sebagai negara modern dengan jumlah orang yang terkena HIV paling kecil. Persepsi yang terbangun adalah negara-negara Afrika memiliki perilaku yang dianggap “tidak lebih baik” dari masyarakat modern sehingga perlu dibenahi agar dapat menanggulangi HIV. Padahal kita semua tahu, persoalan terbesar di Afrika adalah pendidikan dan pemiskinan structural yang membelenggu. Anggapan perilaku masyarakat dunia berkembang tidak lebih baik dari masyarakat negara modern alias maju secara tidak langsung telah memberi penegasan apa yang disebut white man’s burden (tugas kulit putih) adalah mendidik masyarakat koloni berwarna supaya bisa maju dan terhindar dari masalah.
Konsep perubahan perilaku, basis utamamnya adalah ilmu komunikasi. Bagaimana komunikasi sebagai satu bidang ilmu berkembang dengan cepat di negara-negera berkembang, termasuk di Indonesia sangat terkait dengan perkembangan ilmu kamunikasi di Amerika. Christopher Simpson mengatakan , bahwa perkembangan ilmu komunikasi pada masa setelah Perang Dunia disokong sepenuhnya oleh berbagai kelembagaan militer Amerika yang memberikan banyak dana untuk pengembangan studi dan penelitian komunikasi dalam rangka kepentingan Amerika mengenali karakter berbagai negara dan bangsa lain di luar Amerika. Tetapi, hal itu tak lepas dari usaha Amerika untuk menghegemoni dunia, dan menjaga posisi Amerika dalam konteks dunia (Ignatius haryanto : Genealogi Ilmu Komunikasi di Indonesia Suatu Penelusuran Awal).
Memahami komunikasi dalam prespektif yang berbeda menjadi penting dan menambah pemahaman kita dalam mendisain program. Komunikasi sebagai satu bidang ilmu dari bidang ilmu-ilmu lainnnya bukan bersifat tunggal dan absolut. Menempatkan pengorganisiran dan pemberdayaan dibawa konsep perubahan perilaku dengan basis utama komunikasi sangat perlu diperdebatkan agar mendapatkan pencerahan yang lebih matang dan jelas. Perlu ada discourse lebih mendalam di tulisan yang berbeda tentang komunikasi dan perannnya.
Kesesatan logika
Seorang waria atau pekerja seks yang terinfeksi HIV dianggap “perilaku”nya tidak benar karena melakukan hubungan seks dengan pelanggan tidak pakai kondom. Cara melihatkanya bukan dari proses, mengapa menjadi pekerja seks, mengapa posisinya lemah dimata client, mengapa tidak ada keberanian untuk mengatakan tidak bila tanpa kondom. Yang dikejar pada ujung kesimpulan pakai kondom atau tidak, bila tidak pakai maka dianggap salah, segala kesalahan dibebankan padanya. Cara melihatnya tidak secara utuh pada sisi manusia sebagai makluk “social” dengan relasinya tetapi manusia sebagai makluk “individu” dengan kebebasannya. Melihat pekerja seks, waria didalam perannya tanpa melihat mengapa peran itu terpaksa dimainkan, tanpa melihat faktor-faktor penyebabnya merupakan kesesatan logika berpikir, meminjam bahasa Poule Frire tidak kritis dan membebaskan. Seorang Perempuan, laki-laki dan, waria yang menjadi pekerja seks akan terus dihadapkan pada situasi yang “merah”, persaingan antar teman, jebakan tukang kridit, budaya komsumsi dan kebutuhan ekonomi yang semakin dirasakan susah menyebabkan mengambil pilihan berisiko. Jika dianalogikakan mereka ini berdiri didalam lereng miring (Slippery slope ), bila tidak terangkat sebagai manusia berdaya akan jatuh terkana HIV. Persoalan memutus mata rantai di lokalisasi atau hotspot tidak sekedar signifikasi, adanya wacana orang melakukan hubungan seks berganti-ganti pasangan tidak pakai kondom. Tetapi didalamnya (lokalisasi dan hotpsot) dalam realasi hubungan juga adanya dominasi mucikari terhadap Pekerja seks, legitimasi struktur otoritas yang bermain di wilayah tersebut untuk mendapatkan upeti..
Melihat akar
Bagi komunitas Pekerja seks ( perempuan, Waria dan , laki-laki ), HIV adalah dampat dari status pekerjaannya. HIV bukanlah sesuatu yang tiba-tiba datang dari langit, meminjam istilah jika- maka (if –then). Jika saja mereka tidak menjadi pekerja seks maka kemungkinan tertular akan lebih kecil, kemungkinan melakukan hubungan seks berganti-ganti yang diistilahkan “prilaku” seks tidak aman akan kecil. HIV adalah ujung dari persoalan tersebut. Akar masalahnya bisa factor ekonomi, social (stigma dan diskriminasi) maupun budaya yang menyebabkan mereka mengambil pilihan menjadi pekerja seks. Jika menjadi pekerja seks bukanlah cita-cita maka pastinya ada factor lain yang menyebabkan keterpaksaan menjadi pekerja seks dan tertular HIV. Begitu juga bagi Panasun pemahaman sama tidak ada seorang anak manusia punya cita-cita menjadi panasun. Maka secara logika ada factor yang menyebabkan para panasun berdiri dalam lereng kemiringan yang licin bila tidak terangkat oleh masyarakat bumi dengan semboyan satu maju berarti semua maju (baca ; senasib sepenanggungan) akan terjatuh ke lembah Bandar.
Menurut data UNAIDS, diseluruh dunia pada tahun 2007, terdapat 32.8 juta orang yang terinfeksi HIV dan 2 juta orang meninggal karena Aids. Sekitar 80 persen dari kematian ditahun 2007, terjadi di Sub-Sahara Afrika. Di Indonesia, Papua menjadi korban pewabahan virus HIV tertinggi bila diukur berdasarkan prevalensi. Kita mengetahui Papua adalah tanah dengan kekayaan yang berlimpah, mas, gas, kayu dan sumber alam lainnya tersedia. Kekayaan alam yang berlimpah seharusnya bisa membuat rakyat bisa menciptakan pendidikan yang diinginkan untuk mengekplor kekeyaan alam, ekonomi lebih baik, dan sarana prasaran tersedia untuk kemajuan. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya pendidikan masih rendah, tertinggal dari daerah lainnya dan pemiskinan begitu mengakar. Akibatnya mereka menjadi sulit mengatasi pewabahan HIV karena terjerembat oleh kondisi kemiskinan. Seperti di Papua, di semua negara-negara berkembang, penyebaran HIV/AIDS dan kematian yang di akibatkannya, sangat terkait dengan kemiskinan. “Kemiskinan tidak hanya menciptakan kondisi biologis untuk penyebaran infeksi, tapi juga telah membatasi pilihan-pilihan untuk melawan penyebarannya.” (baca : Neoleberalisem dan Penyeberan HIV/AIDS oleh Wilson)
Bila melihat permasalahan HIV dari virusnya- bukan manusianya maka sudut pandangnya akan terbingkai dalam ruang medis dan bilogis saja. Tetapi jika melihat dari sisi manusianya sebagai makluk “social” maka cara berpikirnya akan berbeda.
Setiap individu bukanlah makluk yang bebas nilai dan terpisah dalam masyarakat. Individu adalah bentukan dari desakan-desakan struktur yang tersedia melalui bangunan-bangunannya, organisasi, budaya dan nilai yang dipilihnya. Perubahan perilaku adalah satu bagian dari nilai individu yang akan membentuk satu kebudayaan dalam masyarakat untuk mendukung idiologi yang diinginkan. Semenetara manusia sebagai makluk social merupakan bagian dari kompleksitas bangunan-bangunan (deferensial maupun structural) dalam segala sesuatu yang berhubungan dengan keberadaan dan keberlangsunann dalam sistim kehidupan. HIV adalah bagaian dari persoalan kehidupan, bukan sekedar persoalan perilaku karena didalamnya ada pemiskinan, ada kehidupan bermasyarakat, ada orang yang terkena HIV, ada pembiayaan, ada penjualan ada solidaritas ada pencegahan, ada diskriminasi, ada stigma yang sangat berkolerasi dengan kehidupan social. Karena itu, menganggap HIV sebagai persoalan perilaku adalah mereduksi nilai manusia menjadi hitungan statistic dengan angka nominal .
Strategi Program
Konsepsi dasar adalah ada pewabahan HIV yang sangat massif, wacanannya mengintai dan menyasar kepada orang-orang yang rentan tertular HIV. Jika dibedah secara teliti, apakah pekerja seks, waria, laki-laki dengan laki-laki atau panasun adalah orang-orang yang rentan atau direntankan serta rentan terhadap apa ? Jika dilihat secara akar, mereka secara ekonomi- social rentan terhadap pilihan hidup. Pekerja seks merupakan satu bagian komunitas yang secara ekonomi lemah sehingga mengambil pilihan mejadi pekerja seks. Begitu juga laki-laki – sama laki-laki, waria, panasun adalah satu sisi kamunitas yang secara social mendapat perlakuan yang mengakibatkan dirinya susah untuk mengembangkan potensi. Perlakukan diskriminasi, stigma dan ketidaksetaraan ini tentulah berhubungan dengan kebudayaan dan sikap politik dengan hak-haknya.
Dari kondisi actual diatas tersebut, konsepsi program harus pemberdayaan komunitas berisiko dengan kerja-kerja pengorganisiran. Dasar tindakan program harus menempatkan komunitas berisiko sebagai “pelaku utama” dalam menyelesaikan permasalahan dengan komunitas pendukung. Misalnya, didalam kerja-kerja pencegahan HIV, keterlibatn tokoh agama, tokoh masyarakat sebagai perekat keluarga untuk memainkan peran” setia “ harus diberi ruang. Di sekolah,guru, keluarga dan Negara harus bisa menjaga, menjamin agar anak dalam kondisi yang terbaik dalam menyiapkan masa depan, dengan tidak melakukan seksualitas sebelum waktunya. Begitu juga peran yang sudah dimainkan oleh LSM untuk melakukan pencegahan di komunitas berisiko harus dikuatkan untuk melakukan kerja-kerja pengorganisioran. LSM yang memiliki peran penting didalam melakukan penguatan komunitas harus diberi ruang untuk mengelolah program yang diberikan secara independent, dan kemandirian. Yang penting hasil yang diinginkan oleh pemberi dana terpenuhi. Jangan sampai setelah proyek selesai, selesai pula kegiatannnya . Penguatan LSM adalah satu issue strategis yang sangat penting untuk menjadi langkah-langkah tindakan dalam menggali resource yang berguna dalam penanggulangan HIV. Jika kita mempercayai LSM sebagai katalisator untuk pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan HIV. Maka sudah semestinya LSM diberi ruang untuk mengelolah diri menjadi lebih mendiri agar kerja-kerja yang dilakukan kontinunitas dan konprehensif. LSM bukanlah sekumpulan wayang yang tergantung pada dalang atau perajin yang setia menggu pemberi order dan menurut apa kata pemberi. LSM adalah sekumpulan “agen perubahan “ yang punya visi, mampu menggali resource, punya nilai, komitmen, katalisataor sebagi satu bagian penting yang tidak terpisahkan dari satu kesatuan untuk menggulangi pewabahan HIV.
Akhir kata, kepada semua pekerja penanggulangan HIV Selamat Tahun Baru 2010
Salam
moktar
www. bedah-hiv.blogspot.com
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar