“Setelah selasai kontrak, ya sudah, tidak lagi menyuluh di lokalisasi, nyari yang lain”
Penggalan kalimat diatas merupakan bagian pembicaraan penulis dengan seorang kawan yang menjadi program manager disebuh yayasan untuk penanggulangan HIV. Maskipun hanya penggalan dari sebuah pembicaraan yang panjang tentang kegiatannnya di lokalisasi dalam rangka memutus matarantai penyebaran HIV. Tetapi penggalan tersebut jika dibedah lebih dalam bisa ditangkap menjadi tiga issue yang subtansif : pertama, berhubungan dengan “kesadaran”, kedua, relasi hubungan yang dibangun dan ketiga kemandirian.
Jawaban diatas berasal dari pertanyaan penulis mengenai kegiatan di lokalisasi selepas kontrak dengan pemberi dana selesai. Mendengar jawaban tersebut penulis mencoba mengejar pertanyaan selanjutnya, ditinggalkan begitu saja tanpa merasa beban ? Pekerja Seks dianggap sebagai apa ? Bagaimana dengan dampingan yang selama ini di organisir, ditinggalkan dan kembali pada situasi semula setelah dihisap madunya ? Merupakan pertanyaan-pertanyaan rasa gemes penulis dari jawabn tersebut. Jawabannya sangat singkat : ya, bagaimana, kontraknya sudah selesai ?
KESADARAN
Kesadaran seseorang berubah bisanya datang dari dari dua hal. Pertama dari pengalaman ‘ langsung’ yang dialami, dirasakan dan yang ‘tidak langsung’ melalui membaca atau mendengar dari orang lain yang menceritakannnya. Seorang yang pernah punya pengalaman langsung terkena sipillis, merasakan sakit, menderita dari pengalaman terkena penyakit akan lebih menerima untuk memakai kondom guna mencegah IMS dari pada orang yang hanya membaca melalui brosur atau mendengar dari orang lain. Tetapi ini baru kesadaran individu untuk solving problem, belum dikatakan sebagai kesadaran sosial dalam lingkup yang lebih umum. Kesadaran individu bisa didorong ke kesadaran sosial bila yang bersangkutan memiliki teori dan praktek untuk terlibat ke pencegahan yang berdampak pada banyak orang.
Pengalaman mengorganisir Pekerja Seks di lokalisasi dengan kedalaman interaksi dalam kehidupan sosial seharusnya membawa kesan. Kesan adalah sebentuk pengalaman dari proses-proses yang dialami dalam berinterkasi dengan Pekerja Seks dan lingkungannya. Dari obrolan, melihat pengalaman sehari-hari yang dialami oleh Pekerja seks, keluh kesah tidak bisa ngirim uang ke kampung, dikejar-kejar tukang kridit karena tidak bisa bayar cicilan, berantem sama pelanggan soal besaran bayaran, terkena IMS sampai HIV merupakan pengalaman nyata yang memberikan kesan dari pengalaman tersebut dinamakan kesadaran. Karl Marx mengatakan bahwa “ bukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaan mereka, tapi keberadaan sosial merekalah yang menentukan kesadaran mereka”
Bila kedatangannya ke lokalisasi didasarkan oleh motivasi kejar target, melakukan kerja-kerja mengikuti pesananan maka tidak akan bisa melihat secara utuh persoalan Pekerja seks sebagai manusia dalam relasi sosial, ekonomi. Jika tuntutannya adalah peningkatan penggunaan kondom dalam menurunkan angka IMS, HIV dan AIDS maka jeritan-jeritan di luar persoalan IMS dan kondom hanyalah bagian dari keluh kesah yang diterimanya sebagai nasib yang harus diterima. Begitu pula persoalan kridit, berantem sama pelanggan dan lemahnya posisi Pekerja Seks dianggap sebagai persoalan biasa dalam kehidupan di lokalisasi dan cenderung ke penerimaan sebagai takdir, nasib dan menyalahkan ( blame of victim). Meskipun persoalan tersebut sangat erat hubungannya dengan penggunaan kondom tapi tetap saja sulit menangkap relasi itu. Kesadaran semacam ini akan sulit untuk didorong kepada kegiatan yang menghasilkan ukuran kualitas, konprehensif dalam rangka memutus matarantai pewabahan HIV.
MENGAPA BEGITU ?
Menangkap kesan yang dialami dalam pengorganisiran sehari-hari di kelompok dampingannya menghasilkan persepsi/cara pandang terhadap realitas yang ada. Dalam menangkap realitas berdasarkan cara pandang tersebut disebut kesadaran. Menurut Poulo Freire pendidik dari Brasil, kesadaran seseorang digolongkan menjadi tiga tingkatan , yaitu : magic, naïf dan kritis. Didalam tulisan ini, tidak hendak untuk menggolongkan tingkatan kesadaran dari kalimat diatas tetapi pertanyaannya adalah bagaimana kalimat tersebut bisa terlontar dari orang yang dinggap seabagai “agen” penanggulangan HIV.
Pertanyaan awal yang perlu ditujuhkan adalah carapandang mereka terhadap kelompok dampingan ? HIV dan AIDS adalah permasalahan kehidupan yang harus diatasi. Bagaimana cara “mengatasi” merupakan pertanyaan kunci yang sangat menentukan hasil yang ingin dicapai ? Didalam mengatasi persoalan, latar belakang seseorang menentukan besaran dalam mengatasi persoalan tersebut. Latar belakang ini berhubungan dengan carapandang terhadap persoalan yang ingin diatasi. Kelas menengah yang tersebar di lsm, institusi, pemberi donor, konsultan menyimpulkan menjadi konsep yang dilaksanakan oleh pekerja lapangan. Konsepsi abstrak yang diriilkan menjadi program dengan serangkaian kegiatan tersebut terisi sebagai isi. Isi kegitan yang sangat menentukan kelompok dampingan, organisasi civil society dan gerakan dalam penanggulangan HIV, t ditentukan oleh cara pandang kelas menengah tersebut, apakah mereka sebagai intelektual organic atau konvensional ?
Bila dilihat dari penggalan kalimat diatas tersebut, menjelaskan, kelompok dampingan hanya dianggap sebagai objek serangkaian kegiatan yang dibuat berdasarkan konsep yang telah ada. Sikap kerjanya bersifat perajin, mengikuti selera pada pemberi kerja. Seperti tukang jahit yang hanya menunggu order dari pemberi jasa dan berhenti bila order sudah habis. Ternyata gambaran ini menjadi lebih jelas pada mereka yang masih mempertanyakan fungsi-fungsi konselor dan Manager kasus. Kenapa bisa begitu ? Benarkah ? Siapakah pemberi kerja ? Bisakah mengubah pola hubungan yang lebih menguntungkan mereka yang terdampak ?
Kehadiran aktor didalam keterlibatannya untuk penanggulangan HIV pada tahun 80-an datang dari komunitas kesehatan. Kehadiran komunitas ini berangkat dari profesi sebagai dakter atau pekerja dibidang kesehatan. Ini memang berbeda dengan aktor-aktor di gerakan berbeda seperti perempuan, anak, dan lingkungan. Bila menilik kemunculan LSM di Indonesia sebagaian besar berakar dari kelompok diskusi yang muncul lebih dahulu sebelum kasus HIV. Dirurut secara histories dari proses pendampingan Gedung Ombo dengan tokohnya semacam Romo mangun, Arif Budiman, Gus – Dur, Karcono dll merupakan generasi pertama yang secara keilmuan sangat kritis. Kelompok ini telah mewarnai dan sangat berpengaruh terhadap kekuatan civil society dengan aktor-aktor LSM
Meskipun begitu, sebenarnya pekerja untuk penanggulangan HIV pada tahuan 90-an awal masih sangat konsisten dan berkomitmen tinggi membantu sesama sebagai nilai kemanusian . Titik tolaknya memang beda, komunitas pekerja HIV berakar dari ruang humanis semenatara pendampingan Gedung Ombo dari discourse yang dibentuk dari kondisi structural yang represif pada era Orde Baru. Sebenarnya secara perlahan reduksi konsitensi dan komitmen dalam penanggulangan HIV tersebut justru kemunculan donor yang mengumbar segalanya dengan uang, segala kegiatan diukur uang. Dengan intervensi yang mendalam sampai menentukan pilihan siapa orang yang pantas direkrut, mengabaikan independensi organisasi tersebut hilang .
Ketidak matangan dan ketergantungan yang tinggi mengakibatkan orentasi penanggulangan HIV berayun tanpa kepastian, semenatara gerak penyebaran HIV semakin massif. Seharusnya kita paham dalam pemahaman membantu sesame. Membantu pada inti dasarnya adalah agar orang tersebut atau komunitas bisa membantu diri sendiri. Karena itu prosesnya harus dari bawa, pelibatan komunitas yang berdampak terlibat secara penuh dipandu oleh pemikiran kritis dengan metodelogi dialogis akan berbeda bila cara yang dilakukan secara top down dengan penguasaan sumber pengetahuan oleh mereka yang punya posisi lebih tinggi. Yang pertama, akan menguatkan kemampuan komunitas untuk mengorganisir diri dan berdaya menyelesaiakan persoalannnya dengan kemandirian. Yang kedua, hanya menjadi pekerjaan rutinitas yang menguntungkan mereka secara struktur punya posisi diatas, melanggengkan kekuasaan secara penuh meleluai dominasi pengetahuan. Karena itu, program yang diusung cakupannnya bersifat kuantitas, taktik penguatan melalui pelatihan ketrampilan yang hanya membawa peserta mahir bicara (kognitif) , ice breaking tapi isi dan kedalaman dalam memahami masyarakatnya sangat lemah.
HUBUNGAN KERJA SAMA
Situasi kondisional LSM pencegahan HIV sekarang ini dianalogikan sebagai tukang jahit yang menunggu pemberi order, mengikuti selera dari pemberi order, tunduk dengan segela arahannya. Posisi sebagai katalisator yang visioner tertutup oleh keharusan kejar target, lemah kreatifitas, mengikuti selera pemberi order.
Ketidak mandirian beberapa LSM bisa dipahami kerena : Kelahiran LSM bukan dari kematangan tetapi iming-iming dari pemberi order. Akibatnya kerja-kerja yang dilakukan tersandera oleh pemberi order, tidak berani keluar dari mainstream, balas budi sehingga bersifat menurut dan , hilangnya kreatifitas yang sebenarnya itu kekuatan LSM. Kedua, penguasaan “pengetahuan” yang dimonopoli oleh pemberi dana. Tidak ada di dunia ini yang bersifat netral, bahasa punya kuasa, dan hegemoni kekuasaan. Akibatnya upaya-upaya untuk membeda konsep dan teori yang diberikan diterima begitu saja tanpa ada keberanian untuk membedah. Dari dua hal tersebut mengakibatkan kerja-kerja organisasi lebih mengejar target, terjebak pada rutinitas kerja dan reduksinya peran sebagai agen perubahan menjadi penada order. Secara kelembagaan organisai menjadi mandul, upaya-upaya membangun kemandirian terbengkalai oleh kejar target. Kedua, secara personal, kematangan orang-orang yang ada didalamnya menjadi tumpul dan melupakan perannya. Akibatnya proses berpikir juga mandul dan ungakpan-ungkapan seperti diatas telah menjadi trade made di kalangan pekerja HIV. Tentu kita tidak berharap komentar bahwa kalau tidak ada yg mendanai, kemungkinan akan banyak pensiunan konselor vct dan mk (pendamping odha). Karena itu meperlihatkan kedalaman orang-orang yang bekerja di dalam penannggulangan HIV.
PUNUTUP.
Dari kesadaran yang berproses tersebut akan membentuk konsepsi atau hasil abstraksi atas kejadian, tindakan, atau sesuatu yang didapatkan dari lingkungan sosialnya. Jika kesadaran yang dihasilan adalah kesadaran naïf maka hasilnya adalah pengusaan atas konsepsi yang dibangun untuk melanggengkan “keadaan” agar tetap bisa mendapatkan proyek terus-menerus dan tetap menjadi panada order. Tetapi bila kesadaran yang dimiliki adalah kesadaran kritis maka yang diinginkan adalah mengubah keadaan yang membuat pekerja Seks dari tidak berdaya menjadi berdaya berhubungan dengan status kerjanya. HIV adalah salah satu permasalahan dari permasalahan lainnya yang dihadapi oleh Pekerja seks. Dimanakah posisi kita ?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar